Yogya, I’m Broken April 8, 2008
Posted by triplefortune in Pribadi.trackback
Sungguh tak pernah kusangka, tak pernah kuduga, seluruh Yogya seakan berkonspirasi untuk membuatku jengkel. Mungkin perjalanan ke Yogyakarta kali ini adalah yang terburuk dari semua perjalanan yang pernah kutempuh.
Aku datang ke Yogya tanggal 7 April 2008 untuk mengantar kakakku pulang ke kosnya di dekat UNY. Mengendarai motor tua Honda Astrea Grand, perjalanan kutempuh selama sekitar 2 jam. Rencananya aku akan menginap di kos teman di dekat UGM, sebut saja Ditch (bukan Bitch lho! Emang sih dia suka cerita The Bitchy and The Bitch). Si Ditch ini teman sekelasku di SMA selama 2,5 tahun, sebelum kita berdua diusir dari sekolah. Orang ini dudul sekali dan rada kikuk juga, tapi sekarang hobi naik gunung (gunung siapa?).
Malamnya, aku dan Ditch pergi ke Jogjatronik, jalan Brigjend Katamso, untuk mencari MP3 player untuknya. Waktu itu kurang lebih sudah pukul 20.00. Kami sudah tha’waf berkeliling lantai 3 sebanyak 7 kali untuk mencari gerai yang menjual MP3 player 2GB, tapi tidak kunjung ketemu.
Pulang dengan tangan hampa, kami mampir dulu di warnet Bayonet di dekat bundaran UGM. Warnet ini konon katanya berkecepatan tinggi. Memang benar, update antivirus dapat aku unduh tidak lebih dari 15 menit. Mengupload foto dan mengirim e-mail dengan attachment lebih gegas daripada kecepatan kentut (lho, emang kentut tu seberapa cepat ya).
Tapi, beberapa saat kemudian segerombolan waria datang, menyatroni warnet itu. Beberapa kali mereka melintas depan bilikku, menyebut-nyebut nama seperti “Mbak Dani”, “Mas XXX”, dan berkicau tak jelas. Najis Inggris Prancis! Waria jahannam, lenyaplah kalian dari muka bumi! Aku yang masih virgin ini sangat takut kalau mereka tertarik pada kegantenganku ^_^’. Kami selesai browsing sekitar pukul 00.15. Ini rekor pulang malam dari warnet. Tak kusangka, sepertinya waria-waria itu meninggalkan kutukan buruk kepadaku.
Paginya, leha-leha, baca-baca, santai-santai. Hingga kejadian konyol dan tolol itu terjadi. Kronologinya pukul 10.00, aku mengunci motorku yang kuparkir di depan kosnya. Biasanya aku jarang mengunci motor. Aku kembali ke kamar Ditch untuk packing. Rencananya sehabis itu aku akan pergi ke warnet untuk menulis blog.
Sewaktu aku mau membuka kuncinya, celaka tiga belas! Kunci stangnya macet dan tidak bisa dibuka! Aku berusaha menenangkan diri. Shalat dua rakaat dulu, lalu dengan tololnya tidur selama setengah jam, berharap waktu bangun aku sadar semua ini hanya mimpi. Tapi setelah aku bangun, aku sadar ini benar-benar nyata. Untuk mengisi tenaga yang sudah letih, aku makan siang dulu, baru mencari bengkel motor.
Ada bengkel motor ecek-ecek sekitar 200 meter dari kosnya. Masalahnya, bagaimana membawa motorku yang terkunci ke bengkel itu? Tadinya kami menyeret motor itu, memutar posisinya tiap beberapa meter. Orang-orang di jalan menatap kami seakan-akan kami ini maling motor. Memalukan sekali T_T.
Baru setengah jalan, hujan turun, dan bertambah deras. Mas-mas penjaga bengkel itu bilang “Tunggu dulu ya, saya mau cari bantuan”, dan aku terpaksa menunggu di tengah hujan. Lama menunggu, ia tak kunjung kembali, aku kembali ke kos Ditch, mencopot baju yang basah kuyup dan ganti baju dengan jas hujan (ga elit banget). Lalu aku kembali ke bengkel itu. Masnya bilang “Tunggu ujannya reda aja ya, nanti kita gotong motornya.” Dan aku menunggu dengan duduk manis bagai anak autis di antara orang-orang bengkel yang asing itu.
Salah satu orang bengkel itu mengajakku bicara, “Mas, dari Temanggung kan? Temanggungnya sebelah mana?”
“Ngadirejo Mas” jawabku singkat, masih stress soalnya.
“Ngadirejo itu bukannya ikut Parakan ya? Kok nomor polisinya belakangnya E?” *bertanya dengan oon*
“Ya Parakan itu masih Temanggung juga Mas, belakangnya E semua” *dahi berkerut-kerut*
Usut punya usut, orang itu ternyata pernah tinggal di Temanggung selama 4 tahun, anggota Tim Voli Kabupaten (tapi kok masih bingung sama nomor polisinya ya). Ah, peduli amat, yang penting benerin motorku!!!
Pukul 13.00, hujan baru reda. Salah satu montir di sana berusaha membuka kunci motorku, dia sodok mekanisme di bawah setang dengan obeng, ajaib, terbuka! Untuk menghindari masalah di kemudian hari, sekalian saja kuganti kunci kontaknya. Duit terkuras lagi T_T.
Tujuan berikutnya, kos kakakku, sebut saja Mboy. Rencananya aku akan mengantar dia untuk beli HP baru, mengganti HP Nokia 3350 bututnya, di Ramai Mall. Begitu sampai di kosnya, aku shock lagi, kamarnya terkunci! Penghuni kamar sebelah bilang Mboy sedang pergi, kuncinya dititipkan kepadanya. Aku langsung telepon Mboy,
“Mboy! Lagi di mana sih! Dah di kosmu ni…” *urat dahi menonjol, infuriated mode on*
“Sori, lagi di Movie Box ni.” *jawaban yang santai nan sotoy*
“MOVIE BOX?! NGAPAIN KE SANA?! DAH MEPET NI WAKTUNYA!!! AKU BISA PULANG KEMALEMAN!!!”
“Ya maap, kan dari sini bisa langsung ke Ramai Mall.”
Daripada buang-buang waktu, aku langsung minggat ke Movie Box di jalan Gejayan. Aku benar-benar sebel. Di sana Mboy sudah menunggu di pinggir jalan dengan temannya, seorang cewek berbadan jumbo (maap mbak). Huh… Daripada marah-marah, aku langsung ngebut menuju Ramai Mall di Malioboro.
Akhirnya dapat juga yang dia mau, Nokia 3110 Classic. Harga di sini lebih murah 250.000 daripada di daftar harga tabloid Pulsa. Berikutnya, kami kembali ke tempat parkir. Motorku kuarahkan ke jalan Malioboro. Di pojok kiri jalan, aku melihat ada tanda verboden yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.
“Mboy, rambu-rambu bunder merah ada strip putih di tengahnya itu berarti dilarang lewat bukan?” *idiot mode on*
“Ah, mana? Perasaan semua motor lewat sini deh…”
“Ya udahlah, semalam aku juga lewat sini kok.” *aku geblek juga ya, waktu itu kan jam 9 malam, mana ada polisi*

Dan kami dengan santainya belok kanan, masuk ke jalan Malioboro. Tak lama kemudian, polisi bermotor mendahului kami dan menyuruh kami menepi. Ia ‘menodong’ kami, menyuruh kami menyerahkan surat-surat dan menyuruh kami menemuinya di pos polisi terdekat.
“Tuh kan Mboy, verboden beneran, sial banget nih…” kataku pada kakakku.
“Kita aja yang sial, kebetulan ada polisi lewat, kayaknya tadi ada juga kok yang lewat sini.” *malah nuduh orang lain*
Akhirnya sampai juga di pos terdekat. Aku masuk ke dalam pos dengan muka pasrah. Sebagai warga negara yang baik (ceile…) aku harus memenuhi prosedur hukum.
“Mas Muhammad, Anda sudah melanggar ketentuan blah blah blah, bisa dituntut hukuman kurungan sekian bulan dan blah blah blah,” gertakan sambal khas polisi, tidak jelas di kuping, di kepalaku cuma ada “YOGA, KAMU SIAL BANGET HARI INI, KUALAT SAMA WARIA SEMALEM KALI”.
“Ini kan siang hari Mas, kalau malam saya bisa maklum, tapi Mas harusnya lihat dong tanda itu. Kan tidak ada orang lain yang lewat jalan itu juga to? Kalau motornya dituntun sih tidak apa-apa karena aturannya dilarang mengendarai,” bagus… bagus… Sekarang polisi itu menguliahiku tentang metode penafsiran gramatikal.
“Mau gimana Mas Muhammad?” tanya polisi itu, membangunkan lamunanku.
“Gimana pak? Bayar di sini aja bisa kan? Berapa ya?” tanyaku linglung.
Dan 15.000 rupiah melayang percuma.
“Mas Muhammad tinggal di Yogya?”
“Dari Temanggung pak, saya nginep di saudara.”
“Kuliah di mana?”
“Di Jakarta, di STAN”
“Wah, jurusan apa? Bea Cukai atau Perpajakan? Tetangga saya 5 tahun kerja di luar Jawa, pulang sudah kaya-raya, tapi ya godaannya berat. Nilai matematikanya waktu SMA berapa?” pak polisi itu nerocos, kok yang dia sebut spesialisasi basah semua ya.
“9 pak.” *rada-rada bohong juga sih, harus jaim dong di depan polisi*
“Wah bagus itu, rata-ratanya?”
“9 juga pak.” *asal ngomong lagi*
“Anak saya masih SD, sekarang saya leskan matematika.”
Blah blah blah… Capek juga melayani pertanyaan polisi sok-pengen-tahu itu.
Akhirnya aku minta diri dan menuju jalan Mataram untuk membeli oleh-oleh. Rencananya sih mau beli yangko. Begitu tiba, kuparkir motorku, kutaruh helmku di spion. Baru berapa langkah, bletak, suara benda jatuh terdengar. Aku putar kepalaku 180 derajat (lho, emangnya tuatara), ternyata helm kesayanganku jatuh ke jalan T_T. Seperti melihat kekasih yang habis ditabrak mobil, aku lari menuju helm itu dan memeluknya, sedikit kotor dan lecet T_T. Sial banget!!!
Dan ternyata harga yangko di kios itu cukup mahal. Satu kotak seharga 11.500. Aku mencoba menawar,
“Mbak, bisa kurang nggak?”
“Maaf Mas, kalau yang ukuran kecil habis…” *jawaban yang tidak nyambung sama sekali*
Ya sudahlah, demi teman-teman di Jakarta, aku relakan uang sakuku. Setelah membayar, aku dan Mboy naik motor lagi, menuju kosnya.
Di kosnya, aku tidak mencopot helm. Waktu melewati pintu lorong, kepalaku yang masih memakai helm itu kejedot… Kutukan waria itu belum hilang dan helmku semakin lecet T_T. Dasar sial… Karena sudah stress, aku cepat-cepat pulang, daripada kena kutukan waria yang lebih berbahaya. Pukul 16.30 aku berangkat pulang ke Temanggung. Bye-bye Yogya! Buy-buy waria jahannam!






hua, ha, ha….. mendengar ditilang polantas untung aja gak disuruh ikut sidang… cm disuruh titp denda… ha, ha, ha… apes banget men…