jump to navigation

Drunken Driver Dillema Mei 2, 2008

Posted by triplefortune in Penulisan.
trackback

Alkisah terdapat seorang pemuda pecinta buku yang rajin nongkrong di Gramedia. Namanya adalah Prabha, 16 tahun (bukan nama dan umur sebenarnya). Prabha ini senang menghabiskan waktunya di Gramedia, numpang membaca buku cuma-cuma, sesuai dengan prinsipnya: hemat dan gratis.

Setelah pening karena kelamaan berdiri sambil membaca, ia pun melangkahkan kakinya, hengkang dari toko buku besar itu, menuju pangkalan angkot. Sebuah angkot jurusan D-22 terparkir, kursi depannya kosong. Ia menempati kursi di sebelah sopir itu, tempat yang nyaman. Sang sopir sendiri sedang keluar entah ke mana.

Beberapa ribu detik kemudian, sang sopir pun muncul bak pahlawan kesiangan. Ia masuk ke dalam angkot dan menyalakan starter.

“Oi, gue narik ya!”, teriaknya kepada penjaga pangkalan, tanpa menunggu jawaban, ia menginjak pedal gas.

Kelihatannya ada yang salah, angkot itu menyendal-nyendal beberapa kali. Ada dua kemungkinan: pertama, angkotnya rusak, Prabha harap ini yang benar. Kedua, sopirnya ini gila atau bukan sopir beneran… Tapi akhirnya mobil itu berjalan dengan lancar, jadi kelihatannya kemungkinan kedua yang benar, Prabha menyiapkan dirinya dengan segenap jiwa dan raga untuk disunat ulang…

Bukannya melaju ke depan, si sopir malah mengarahkan angkotnya ke tengah jalan, miring 45 derajat searah jarum jam kemudian berhenti sejenak, menutupi jalan. Malahan ia memaki-maki, mengeluarkan sumpah serapah, dan menyebut-nyebut nama penghuni kebun binatang seperti ayam goreng, tongseng kambing, kucing kampus, bebek kloset dan semacamnya… Lalu dengan ugal-ugalan sang sopir menjalankan angkotnya.

Prabha kini sadar nyawanya terancam, seperti penumpang American Airlines 11 yang pesawatnya dibajak teroris. Dia mau menimpuk kepala sopir itu dengan buku setebal bantal sampai pingsan, tapi itu sama saja dengan membunuh pilot di pesawat yang masih mengudara. Alternatif lain, lompat keluar, berubah wujud, dan terbang… Tapi ia sadar, ia bukan Ultraman. Akhirnya ia memasrahkan dirinya.

Sopir itu memacu angkotnya dengan akselerasi sebesar 19 meter/sekon kuadrat bagai pembalap (bukan pemuda-berbadan-gelap) di Initial D. Badannya sampai condong ke belakang, rambut gondrongnya berkibar-kibar. Sempat-sempatnya ia menyumpahi pengendara motor di jalan, memanggilnya dengan ‘shaggy dog’ atau ‘pink pussy-cat’. Penumpang pun histeris, meminta sopir mabok itu berhenti, ada yang nyebut “Astagapiluloh”, dan ada pula yang mimisan dari pantat.

Prabha menjejakkan kakinya kuat-kuat ke bagian bawah dasbor. Ia sadar sewaktu-waktu kepalanya bisa kejedot kaca mobil, ia berusaha sekuat tenaga melindungi wajah ganteng nan rupawan itu. Ini bukan pengalaman pertama, waktu SMP, ia pernah naik mobil yang sedang diujicoba oleh montir sehabis diperbaiki. Sang montir itu rupanya berambisi jadi pembalap F-1. Prabha hampir terjengkang ke jok paling belakang…

Tapi dewi keberuntungan, dewi Sarasvati masih berpihak kepadanya (lho, bukannya itu dewi ilmu pengetahuan?). Di perempatan yang ramai, sopir itu menghentikan angkotnya. Tanpa ba-bi-bu, Prabha segera menarik pelatuk di pintu, ngacir secepat mungkin. Seluruh penumpang lain yang masih histeris berlarian bagai kucing kawin.

Prabha pun mencegat angkot D-22 yang lain.

“Bang, sopir angkot di depan ngamuk, mabok kali ya?!” ujarnya pada sopir angkot itu, yang untungnya tidak sama-sama mabok, kelihatannya…

“Wah, pe-a’, si dia mabok dibiarin narik. Tadi dia tu abis minum-minum di pangkalan” , kata sopir itu.

Meneguetehe… Pikir si Prabha. Yang penting ia selamat dalam perjalanan-pulang-sehabis-mencari-kitab-suci-kamasutra.

Beberapa saat kemudian si sopir mengeluarkan sumpah serapah “Ten thousand thundering typhoons!”. Prabha siap-siap jiwa dan raga lagi, kalau-kalau sopir itu ternyata Kapten Haddock yang sedang mabok. Ternyata tidak, tapi kabar burungnya, eh, kabar buruknya, sopir mabok tadi sekarang berdiri di tengah jalan, sementara angkotnya tidak jelas keberadaannya.

“Hei, elu kalo mabok jangan nyetir dong!” seru sopir-tak-mabuk itu.

“Engga, gue enggak mabok kok” dia ngeles.

“Nah, lalu sekarang angkot elu sapa yang narik?”.

“Engga, gue enggak mabok!!!” jawabannya tidak nyambung sama sekali.

“Gue tanya, sapa yang narik angkot elu sekarang?!” sopir-tak-mabuk itu berusaha memperjelas kata-katanya yang sudah jelas itu.

“Oh, si Joy… Gue enggak mabok, beneran!!!” kata si sopir-mabuk.

Sopir-tak-mabuk itu pun melaju lagi.

“Untung aja dia engga ngambil batu terus nimpuk kita” kata si sopir.

“Iya, kita takut ni” ibu-ibu di belakang berkomentar.

Si Prabha cuma bisa senyum-senyum traumatis. Ah~, fiu… Ia masih belum ditakdirkan untuk bertemu Azraël…

Komentar»

No comments yet — be the first.