jump to navigation

Tour de Java: Semarang September 21, 2008

Posted by triplefortune in Pribadi.
Tags: , , , ,
2 comments

Setelah setahun lebih lamanya tidak mengunjungi kota terbesar ke-5 di Indonesia ini, akhirnya hari ini aku menapakkan kaki lagi (atau ban motor) di Semarang. Bosan ngebis, aku putuskan untuk naik motor sendiri, Astrea Grand 69 96 tercinta.

Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Pukul 08.00 aku berangkat, pukul 10.05 aku sudah sampai di Srondol tercinta. Aku berbelok dari jalan Setiabudi ke jalan Kiai Mojo, menuju Lembaga Pemasyarakatan Manusia Purba Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), tempat aku pernah menghabiskan waktu selama 3 bulan saat SMA. Banyak kenangan indah yang terukir di sini bersama teman-teman Tim Olimpiade Komputer Jateng alias Run-timed Error Programmer of Algorithm (Repeat) ^_^.

Ada beberapa perubahan besar di sini, LPMP yang dulunya megah kini semakin megah . Masjid yang dulu sedang dibangun kini berdiri dengan kokoh di depan Wisma 2. Aku duduk di depan kamar yang dulunya dihuni teman dekatku, si F.P. Pikiranku bernostalgila. Aku jadi terkenang saat aku menyembunyikan sandalnya sampai dia menangis :p. Siapa suruh bikin ultah sweet seventeen-ku jadi neraka! Tak termaafkan!

The place where we used to hang-out

Bench tempat kami biasa duduk menunggu mobil jemputan pun sudah tiada, tergusur oleh ekstensifikasi ruang makan. Dulu kami sering ngobrol, terutama tentang peer dari Bu Yenny yang merusak mata dan merontokkan otak. Aku dulu biasa datang paling pagi, sambil mengunyah sebungkus bengbeng dan ngemut sebutir vitamin C. Di asrama ini, setelah 3 bulan, beratku naik 10 kilo, huehehe. Sweet memories of my bitter youth.

Sekarang statusku di sana adalah outsider. Aku kayak agen-sok-rahasia, jalan mengendap-endap supaya ga keliatan pegawai LPMP, takut dikenali. Huahaha. Gebleknya, aku pake jaket OSN yang pastinya cukup familiar bagi pegawai LPMP yang pernah melihat kami 2 tahun lalu.

Setelah puas melihat-lihat selama kurang lebih selama 30 menit, aku berniat lanjut ke tujuan berikutnya. Eh, aku belum bilang ya, misi utama di Semarang adalah mengambil kuesioner kelas yang ada di tangan Miss P, my pal di kelas, sekaligus tetangga kos. Kebetulan dia sedang di Semarang, mengunjungi adiknya yang kuliah di Undip.

Beberapa saat sebelum aku pergi, Miss P kirim SMS:

Kta ktemu setngah 12 ja yog. Adikku susah bgt bnguny.
Sory d'undur...

Dasar… Kakak-beradik sama aja… Sama-sama susah bangun. Wew, masih ada waktu sekitar 1 jam sampe waktu janjian ketemuan, jadi aku pergi ke Tembalang dulu. Tembalang adalah wilayah dimana kampus Undip dan Polines terletak. Tadinya aku pengen ketemu temen-temen di Wisma RS tempat aku sempet tinggal selama seminggu waktu ospek Undip dulu, tapi wisma itu udah pindah dan ga ada orang yang bisa aku hubungi.

At least, masih ada satu orang yang kukenal di sana. Adik kelas waktu SMA berinisial L. Berhubung kosnya tidak jauh dari kampus Polines, aku sempet ketemuan dan ngobrol sebentar.

Wait a minute, tadinya kupikir tempat kos adiknya Miss P ga jauh dari situ. Tapi aku baru inget, adiknya kuliah di Pleburan, daerah pusat kota! Shit, kalo gitu dia bakal lebih cepet nyampe ke tempat transaksi di Citraland. Terpaksa aku bergegas pergi menuju Simpang Lima.

Wew, aku dah banyak lupa jalan di Semarang. Aku agak ragu-ragu tiap kali melihat persimpangan jalan. Tapi insting biker amatirku menuntun ke tempat yang kutuju. In the worst scenario, selembar peta Semarang ada dalam tasku.

Simpang Lima di hari Minggu bagai gelombang tsunami kendaraan bermotor. Motor dan mobil berjubel menuju tempat parkir. Awalnya aku ga dapet tempat parkir, aku akhirnya mencoba masuk parkiran lagi. Untungnya tanpa perlu thawaf tujuh kali, di kesempatan kedua ini aku berhasil dapat tempat parkir di tepi jalan.

Citraland waktu itu bagai lautan manusia. Ramenya minta ampun… Walaupun sekarang bulan puasa, semua gerai restoran penuh. Aku dapet SMS lagi, Miss P juga lagi kebingungan cari tempat parkir. Dia suruh aku nunggu di KFC lantai 2. Bah, di KFC juga penuhnya minta ampun. Aku nunggu di depannya selama beberapa menit.

“Yoga!!!” seruan familiar itu terdengar dari belakangku.

Aku menoleh, itu Miss P dan adiknya. Her sister looks much alike their mother. Alah, sok kenal, aku kan belum pernah ketemu… Kami pun berkenalan. Kemudian transaksi dilakukan dalam bioskop 21. Pemindahtanganan kuesioner kelas berlangsung dengan lancar, ditambah lembar ekstra.

“Yog, tolong bantuin adikku ngerjain tugas Inggrisnya ya…” Miss P minta tolong hal yang seperti biasanya.

“Yoga ni master English lho.” katanya melebih-lebihkan…

Ternyata tugasnya gampang, cuma membuat daftar noun, verb, adjective dan adverb dari sebuah artikel koran berbahasa Linggis. Ieu mah anak SMP oge bisa. Tugas itu selesai dalam beberapa menit.

“Yog, pindah yuk ke Java Mall. Di sini rame banget. Dah gitu ga ada Solaria. Bagusnya si cuma karena ada 21.” ujar Miss P.

“Semarang ni penduduknya banyak tapi mallnya cuma 3. Ga kayak di Jakarta, mall-mall jumlahnya ga bisa diitung pake jari tangan ma kaki.” tambahnya.

OK, OK… Likely, these siblings are (m)all-knowing and (m)all-wise. Kami menuju ke Java Mall. Di sana, parkir jauh lebih mudah daripada di Citraland. Pun suasananya tidak terlalu padat pengunjung.

Hiruk-pikuk Java Mall

Di sini kami berhenti di Solaria, maklum, 2 saudari ini sedang tidak puasa. Sembari makan, Miss P mengisi kuesionernya. Tidak lupa aku nagih utangnya dulu. Huehehe, 80 km datang untuk nagih utang :p.

Pukul 15.00 aku pamit pulang. Aku khawatir di Ungaran nanti macet. Sampai di parkiran, aku bingung di mana motorku! Mataku nge-scan satu persatu. Ga ada T_T… Aku sampe tanya ke tukang parkir. Dia juga ga nemu motorku. Aku panik, sampe telepon Miss P segala. Aku mencoba berpikir tenang. Aku ingat-ingat lagi, susunan parkir ini agak berbeda. Setelah calm-down, aku sadar, bukan di sini tempat parkirnya! Bodoh!!! Tempat parkirnya masih di sebelah utaranya lagi… Huehehe. Daya ingatku emang sekelas dengan teri medan. Saat itu sudah hampir pukul 15.30.

Tempat parkir jahanam

Untungnya di jalan semua berlangsung lancar. Sebelum sampai di rumah, aku beli martabak manis buat buka puasa di rumah. Pukul 17.50 aku sampai rumah. I’m home!

Kuesioner 1-F September 8, 2008

Posted by triplefortune in Penulisan.
1 comment so far

Bagi yang belum ngisi kuesioner n ngasih ke Yoga, tolong isinya OL aja dan kirim ke alamat imel triplefortune@yahoo.com. Formatnya kayak gini nih:

Nama :
TTL :
Alamat Rumah :
Kost :
Kesan:

Aby “Pak Ketu” Romadhona

Adhyanto Cahyo Nugrojo

Agustina Chandrawati

Alfiansyah Wydananto

Allan Dhida Novi Pratama

Ariani Wahyuni

Bima Adetya

Cahya Budi Kurniawan

Charisma Ryana Putra

Denny

Desi Diarnitha

Dewi Agusrianti

Dian Nugraha Santoso

Didik Suprastowo

Dini Widianingsih

Dwi Nurtanto

Dwiki Riwanto

Fitria Ratna Wardika

Hendiko Sitorus

Imannuel Christian Tambunan

Muhammad Adib Muhtar

Muhammad Hermawan Sunazki

Muhammad Razak

Muhammad Yoga Prabowo

Nico Amaros Sinulingga

Novalita Gabriella Purba

Nurul Ulfatul Khasanah

Purnamasari Kurnia

Rifky Hamdani

Satrya Vandicka

Septyandri

Sigid Budhi Permana

Sri Rizky

Sumanty Elizabeth Manurung

Wisnu Wibowo

Yuliana Rohmawati

Award 1-F September 8, 2008

Posted by triplefortune in Pribadi.
add a comment

Temen-temen 1-F yang belon ngisi lembar Award 1-F harap isi online aja, formatnya kayak di bawah ini, terus dikirim lewat imel ke triplefortune@yahoo.com. Thanks…

Ganteng
Cantik
Pelit
Murah hati
Item
Putih
Rajin
Males
Gokil
Pendiem
Usil
Kalem
Seksi
Mesum
Katrok
Gaul
Sholeh
Bejat
Lucu
Jayus
Cuek
Jaim
On-time
Telatan
Rapi
Berantakan
Bersih
Jorok
Narsis
Sumbang
Wangi
Bau

La Usurpadora September 8, 2008

Posted by triplefortune in Lirik.
Tags: ,
4 comments

Un dia llegare con un disfraz,
Distinto el color
La misma fas,
Te desalmare
Ni cuenta te daras,
Para entregar te el corazon.

Despacio te ire
amando mas,
Y te cuidare
En el bien y el mal
El cielo te dare,
Tu abrigo yo sere
A ti me entregare.

La usurpadora,
Esperando por tu amor,
La usurpadora,
Me haces dano corazon.
Descubreme, Recuerdame.
La usurpadora…

Un dia llegare con un disfraz,
Distinto el color
La misma fas,
Te desalmare
Ni cuenta te daras,
Para entregar te el corazon.

Despacio te ire
amando mas,
Y te cuidare
En el bien y el mal
El cielo te dare,
Tu abrigo yo sere
A ti me entregare.

La usurpadora,
Esperando por tu amor,
La usurpadora,
Me haces dano corazon…

La usurpadora,
Esperando por tu amor,
La usurpadora,
Me haces dano corazon…
La usurpadora…

Komentar dari Anak 1-F untuk Anak-Anak 1-F September 8, 2008

Posted by triplefortune in Penulisan.
Tags: , ,
add a comment

Saudara-saudara tercinta di 1-F Administrasi Perpajakan, ni kalian bisa baca sebuah komen konyol dan tolol (jangan disingkat) dari seseorang yang gokil di kelas 1-F. Silahkan dibaca…

Aby “Pak Ketu” Romadhona
Sekilas mirip Teletubbies, tapi kalo diperhatiin lagi malah mirip Doraemon… Abstrak memang…

Adhyanto Cahyo Nugrojo
Misterius…

Agustina Chandrawati
Handphone adalah sebagian dari hidupnya… Dan hidupnya adalah sebagian dari handphone…

Alfiansyah Wydananto
Siang malam selalu bermain anu… Walau anunya menolak… Tetap saja dimainkan sexara paksa sampai pass out, tragis…

Allan Dhida Novi Pratama
Keren… Anak 1-F yang terbiasa dengan logat Er,opa pinggiran…

Ariani Wahyuni
Hm, sulit untuk didefinisikan… Yang jelas bentuknya itu penuh dengan tanda tanya… Mungkin juga terdapat tanda seru, tanda koma, dan titik dua…

Bima Adetya
Si Adezza ini mampu meluluhkan hati para wanita dengan jurus lumba-lumba.

Cahya Budi Kurniawan
Dahsyat banged lah… Ondel-ondel aja kalah… Walaupun begitu, ondel-ondel itu tidak akan semudah itu mengakui kekalahannya.

Charisma Ryana Putra
Seorang anak yang lugu dan polos terhadap wanita… Terpancar jelas dari tatapan matanya yang penuh nafsu yang tulus…

Denny
-

Desi Diarnitha
Derita cinta yang dialaminya cukup untuk membuat seorang tikus mati sengsara…

Dewi Agusrianti
Beliau tumbuh dengan subur… Mungkin karena dia sering ngemil pupuk kompos…

Dian Nugraha Santoso
Ganteng banged… Setidaknya lebih ganteng dari cemilannya Dewi.

Didik Suprastowo
Seorang Ustad yang menganut paham narsisme…

Dini Widianingsih
Kecil, imut, mungil, namun berkualitas ekspor dengan fasilitas pengenaan tarif ekspor PPN 0% jika dilakukan dalam bentuk CKD.

Dwi Nurtanto
Paras wajahnya selalu mengingatkanku pada nasib para korban lumpur lapindo. Ya, maksudku… Para lumpurnya…

Dwiki Riwanto
Cowok paling tinggi di kelas… Merupakan contoh dari berlakunya teori evolusi Darwin pada manusia…

Fitria Ratna Wardika
Cocok sebagai pemeran utama film Ayat-Ayat IP. Drama cinta romantis, melankolis nan tragis, dan penuh tangis yang diselingi dengan adegan panas berlumur tinja… Entah tinjanya siapa…

Hendiko Sitorus
Anak 1-F yang tergolong kategori kelas berat… Cukup mempesona dengan nyanyian-nyanyiannya yang menebar maut…

Imannuel Christian Tambunan
Orangnya tegas, berkharisma, berpendirian teguh, penuh wibawa sehingga disegani oleh semua orang.

Muhammad Adib Muhtar
Luar biasa… Cocok buat jadi bintang iklan B29.

Muhammad Hermawan Sunazki
Jago makan bola… Sering berbagi bola dengan Andri, dan tak jarang pula mereka makan bola bersama.

Muhammad Razak
-

Muhammad Yoga Prabowo
Penganut aliran abstrakisme negatif… Agak aneh… Tapi cukup gurih.

Nico Amaros Sinulingga
Elegan, penuh dengan kelemahlembutan. Cukup menyenangkan walaupun agak menjijikkan, dan jika dimakan dapat mengganggu produksi sperma.

Novalita Gabriella Purba
Ganteng! Penuh trik & intrik… Agak licik, namun baik…

Nurul Ulfatul Khasanah
Keahliannya akan dimanfaatkan DJP untuk mengatasi WP-WP nakal yang melarikan diri ke tebing-tebing yang curam.

Purnamasari Kurnia
-

Rifky Hamdani
Dahsyat… Sayang banged kalo dah nggak di sini lagi…

Satrya Vandicka
Dilarang mengomentari diri sendiri…

Septyandri
Unik… Makhluk dengan codename “Lubis” ini penuh dengan efek samping yang cukup serius…

Sigid Budhi Permana
Wew, “Dahsyat”… Tak dapat terlukiskan dengan kata-kata karena kata-kata itu bukan sarana untuk melukis…

Sri Rizky
Eksotis! Penuh dengan warna… Cocok sebagai objek wisata liburan bagi kaum tunanetra…

Sumanty Elizabeth Manurung
Keren… Otaknya itu kayak apa sih… Mungkinkah otaknya terbuat dari ampas kelapa? Atau dari terasi udang? Ah, jangan-jangan dari kerupuk kulit?

Wisnu Wibowo
Dahsyat… Penuh rahasia… Entah rahasia apa…

Yuliana Rohmawati
Air yang tenang, jangan disangka tidak ada buayanya. Siapa yang tahu jika suatu waktu akan ada buaya yang keluar dari mulutnya dan menelan kita semua…

Harus Sampai di Sini September 4, 2008

Posted by triplefortune in Lirik.
1 comment so far

Tibalah waktunya
Di penghujung rinduku
Perpisahan adalah kenyataan

Katakan padaku
Walau dengan air mata
Yang jatuh membasahi bumi

*
Harus Disinilah
Kita berpisah
Lambaikan tanganmu

Pejamkan matamu
Di penghabisan seluruh rindumu
Harus sampai disini

Terbenam sang fajar
Bukan berarti juga
Seluruh cintaku kan pudar untukmu

Back to *

Kenanglah kini ku kenanglah…
Pahit dan manis saat bersama
Oo..oo..oo..

Back to *

Perjalanan Edan ke JPF September 2, 2008

Posted by triplefortune in Pribadi.
Tags: , , , ,
add a comment

Pagi ini aku bangun di kos baruku. Sebenernya kurang enak juga sama pemilik kos karena sebelumnya aku bilang mau pulang kemarin. Tapi karena ada rencana pergi jalan-jalan bareng temen-temen, kepulanganku musti ditunda. Beruntung Ibu kosnya baik hati dan ramah, jadi aku diizinkan beliau dengan mulut tersenyum lebar.

Pagi ini cukup cerah, cocok untuk jalan-jalan ke luar. Rencananya aku mau pergi bareng Dini dan Nico jam 9 ke JPF – atas inisiatif Dini. For your information, kami adalah 3 makhluk dengan latar belakang ras berbeda, dengan jenis kelamin yang berbeda pula (male, female, and the third gender – eunuch) yang tercampur di sebuah melting-pot bernama 1-F Administrasi Pajak STAN.

Aku, tahu sendiri, seorang lelaki Jawa tanggung dari Temanggung (on dispute). Tinggi 173 cm dan berat 63 kg, cukup good-looking dengan kumis-tipis-eksotis dan cambang-panjang-mengawang. Dini Widya, sebiji marshmallow seorang mojang Banten (entah apa bedanya dengan orang Sunda selain dialek pantai utara), gadis mungil, imut, chubby, dan tampang awet muda, padahal aslinya dia udah berumur kepala 2. Entah apa rahasia muka penuh-trik-dan-intrik yang bisa menipu waktu, mungkinkah dia mewarisi jampi-jampi awet muda Dayang Sumbi? Tiada yang tahu, dia cuma mengakui bahwa dia suka 69 telah mengonsumsi APTX 4869. Sementara si Nico, orang Batak Karo bermarga Sinusitis, penganut aliran feminisme yang selalu memproklamasikan bahwa dirinya ganteng, meski tidak ada yang pernah mengakui kedaulatan kegantengannya. “Selalu membanggakan dirinya karena tidak ada orang lain yang membanggakannya,” begitu kata Ariani.

Meskipun logat kami agak berbeda, satu menggunakan dialek koboi dari negara bagian Calimongso, satu lagi beraksen Welsh, dan yang terakhir bicara dengan logat Eropa pinggiran, yang jelas kami sama-sama pakai kata ganti ‘aku’ dan ‘kamu’, bukan ‘lu’ dan ‘gue’ seperti layaknya imigran Jakarta yang mulutnya sudah tercemar.

Jam 9 kami berkumpul di Harmoni, toko-swalayan-sejuta-umat bagi mahasiswa STAN. Mulai dari celana dalam bermotif kembang-kembang hingga kolor aneka warna bisa ditemukan di sini. Kasir nan cekatan akan melayani pengunjung dengan ritme secepat tari Jaipong, beda dengan kasir Carrefour yang lemah gemulai bak penari-Serimpi-lagi-puasa.

Angkot C-09 mengangkut kami bertiga sampai di dekat rel KA Pesanggrahan. Kemudian dilanjut dengan Metromini 71 jurusan Blok M. Beruntunglah sopir Metromini itu tidak terlalu ugal-ugalan sehingga kami bisa sampai dengan selamat, sehat wal afiat tanpa aral halangan suatu apapun. Having a bus trip in Jakarta can really break your limbs.

Oh ya, as far as I know, di Jawa Barat dan Banten, kendaraan umum berukuran besar itu lazim dilafalkan bês oleh native-speaker bahasa Sunda. Sedangkan orang Jawa mengucapkannya dengan pelafalan bés. Orang Batak? Tahu sendiri lah kau bijimana logat Si Poltak Raja Minyak dari Medan…

Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki moda transportasi favorit orang Betawi, Busway alias Trans Batavia. Turun di halte Bundaran Senayan, si Nico nyaris salah melangkah ke Ratu Plaza, padahal tujuan kami adalah Gedung Summitmas I di seberangnya.

Ada beberapa prosedur yang harus dilalui untuk masuk ke dalam gedung. Bagi orang ganteng bertampang tipikal teroris seperti aku, hal ini bisa jadi agak sedikit merepotkan. Pertama, pemeriksaan barang oleh petugas keamanan. Yah, kali ini cukup dengan membuka tas dan melihat isinya. Petugas itu punya tingkat kepercayaan yang tinggi, aku cuma membuka satu bagian tas dan langsung lulus sensor begitu aja. OK, aku sukses membawa masuk bom… Mungkin cara ini bisa dicoba di Kedutaan Besar Malaysia, hehehe.

Kedua, menyerahkan KTP dan menggunakan kartu identitas yang dipasang di pakaian. Em… Mungkin mereka heran melihat KTP Temanggung dari zaman batu yang bentuknya masih ultrakonvensional itu. Dan pasti mereka bingung melihat anak kecil seperti Dini bisa punya KTP. Hehehe, piss Bu Dini.

OK, semua beres. Kami naik lift ke lantai 2. Tada… Semuanya SEPI!!! Naze darou, toushoukan wa doko ka na?! Perpustakaan tutup, tidak ada pameran, kami cuma bisa mengambil brosur T_T… Tapi aku melihat satu yang aku mau. Pengumuman pendaftaran tes JLPT!!! Japanese Language Proficiency Test ini adalah TOEFL-nya bahasa Jepang. Bagus, pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tadinya kebingungan kapan harus mendaftar karena aku harus segera pulang, dan setahuku pendaftaran di Jakarta harus dilakukan di Universitas Darma Persada, Jakarta Timur. Dan kini aku dapat solusinya. Aku cukup mendaftar on-the-spot di lantai 3.

Harga formulir masih tetap sama, tapi desain warnanya berbeda. It cost me a fair 10,000. Tapi uang tes level 3 udah naik, jadi 60.000 T_T. Dua tahun lalu cuma 45.000 lho. Udahlah, daripada ongkos aslinya yang di Jepang bisa sampe ribuan yen. Hai, sankyuu no nouryoku shiken, boku ga kuru no da!

Em… Tapi kok kartu tesnya dikirim lewat pos ya? Walhasil alamatnya kuisi alamat rumah, soalnya kartunya bakal dikirim bulan Oktober. Waktu itu aku masih menikmati masa pengangguran nan panjang. Beda dengan dulu, kartunya bisa langsung diambil. Kartu itu dibutuhkan buat mengikuti tes. Eits, jangan ragu dengan alamat itu, meski tidak semua orang tahu Temanggung, tukang pos pasti tahu siapa itu M. Yoga Prabowo. Pernah suatu hari datang surat dari seorang bule tua dari Washington, my old acquaintance, yang bahkan tulisan lebih sulit dibaca daripada huruf paku. I wonder why the postman could bring it to my house. Entah itu berkat faktor luck atau faktor f*ck.

Daripada pulang dengan tangan hampa, kami akhirnya kembali ke MBM (Mal Blok M, bukan Masjid Baitul Mal). Kami naik kopaja dari halte depan Summitmas. Lebih murah daripada naik busway, cuma 2.000 aja.

Di depan Pasaraya Grande sopir bus menyuruh kami turun. Si Dini beralih naik ke bis lain di belakangnya. Aku pikir si Dini ini mau ke Plaza Blok M naik bis itu. Aku dan Nico ikut-ikutan aja. Tapi begitu jalan, aku bingung kenapa bis ini ga belok ke Melawai?! Sampai di sebuah traffic light, aku liat ada penunjuk jalan, cuma tertulis Thamrin, Fatmawati dan Cilandak. OK, DI MANA MELAWAI?! Aku tahu kami nyasar. Kalo dibiarin, alih-alih ke Melawai, kami bisa sampai ke Kepulauan Mentawai.

“Dini, kamu yakin kita naik bis ini, kita ga salah naik?!” aku tanya dengan tingkat penasaran 101%.

“Eh, ga tau ni. Aku cuma langsung naik aja.” *sotoy-mode on*

Aku sadar bahwa aku mempercayakan perjalanan kami ke orang yang kurang tepat. Aku tunjukin papan penunjuk jalan, tidak ada kata Melawai, tidak ada kata Plaza Blok M, semua jauh dari tujuan. Aku beranjak menuju kernet dan minta turun di situ segera.

Akhirnya kami berjalan kembali ke depan Pasaraya Grande dengan mempertaruhkan nyawa menyeberang di jalur nan ramai. Crossing roads in Jakarta means that you decide-to-suicide, make-or-break. Untungnya di situ ada sebuah jembatan penyeberangan, dan voila… Sampailah kami di Mal Blok M. Dasar si Dini… Meski dia udah lebih lama di Jakarta, dia lebih ijo tentang jalan di Jakarta daripada aku. Gadis cerdas dengan pengetahuan kota Jakarta setingkat marshmallow… Yah, yang penting kita doakan supaya si mungil Dini ga diculik sindikat penculik anak SD. Mbak Dini punika piyantunipun taksih katon kados lare alit (hohoho, semoga Dini ga tau arti bahasa-planet ini).

Sebenernya ga ada sih yang mau beli baju di sana. We’re just sightseein’, lookin’ for splendid stuffs. Tapi tidak ada barang yang menarik perhatianku, lagian baru Jumat kemaren aku pergi ke sana bareng temen dari siang ampe Maghrib. Fortunately, not from dusk till dawn at the beauty clinic. Akhirnya kami malah nemenin Dini ke swalayan buat beli detergen ^_^’.

Bai de wei (bahasa Mandarin ni, hehehe), harga baju di Ramayana mahal-mahal T_T. Kok beda ya dengan di Ramayana Yogya yang bisa murah-murah banget. Ah… Jadi kangen Yogya, rumah keduaku. OK, aku ga punya rumah di sana, kecuali kalo aku bisa dibilang penghuni Keraton ;-) . Yup, Yogya is my middle-name.

Kami pun akhirnya pulang, menuju Jurang Mangu tercinta. Aku dan Dini turun di gerbang PJMI, meninggalkan Nico yang termangu dalam angkot. Oh ya, aku mau memberi Dini sesuatu yang dari dulu ingin kuberikan.

“Dini, ini punya kamu bukan?” aku mengeluarkan sesuatu dari saku jeansku.

“Ah, kenapa bisa ada di kamu Yog?!” Dini kaget melihatnya.

Saudara-saudara, benda itu adalah… Sebatang bolpoin. Hehehe, lebai amat. Bolpoin faster yang sudah kupinjam selama 5 hari tanpa Dini sadari.

“Kok kamu inget itu punyaku?” Dini bertanya dengan dudulnya.

“Kan aku yang beliin buat kamu!” aku mengingatkan dia pada saat aku fotokopi tugas PPh, waktu itu dia titip beli bolpoin faster. Awkward memory of awkwardness.

Yah, aku ga bisa tenang kalo belum ngembaliin barang itu. Sekarang aku bisa bilang “Sampai jumpa, marshmallow kawan”. Sampai jumpa 1-F. Sampai jumpa semuanya. Semoga kita bisa sekelas lagi… Meski mungkin aku sudah bukan Yoga yang dulu. Aku mungkin sudah berubah menjadi Yoga 2.0 dengan tingkat kegantengan 200% dan kadar kolesterol 50%. Tapi di dalam hati, aku adalah aku, dan teman tetaplah teman. Daiji na mono wa hidari no mune ni nokotteru. Samishikutemo, minna ga iru kara, kokoro ga ii yo. Though I’ll be lonely, it doesn’t matter because all of you are in my heart. Friends forever!