jump to navigation

Perjalanan Edan ke JPF September 2, 2008

Posted by triplefortune in Pribadi.
Tags: , , , ,
trackback

Pagi ini aku bangun di kos baruku. Sebenernya kurang enak juga sama pemilik kos karena sebelumnya aku bilang mau pulang kemarin. Tapi karena ada rencana pergi jalan-jalan bareng temen-temen, kepulanganku musti ditunda. Beruntung Ibu kosnya baik hati dan ramah, jadi aku diizinkan beliau dengan mulut tersenyum lebar.

Pagi ini cukup cerah, cocok untuk jalan-jalan ke luar. Rencananya aku mau pergi bareng Dini dan Nico jam 9 ke JPF – atas inisiatif Dini. For your information, kami adalah 3 makhluk dengan latar belakang ras berbeda, dengan jenis kelamin yang berbeda pula (male, female, and the third gender – eunuch) yang tercampur di sebuah melting-pot bernama 1-F Administrasi Pajak STAN.

Aku, tahu sendiri, seorang lelaki Jawa tanggung dari Temanggung (on dispute). Tinggi 173 cm dan berat 63 kg, cukup good-looking dengan kumis-tipis-eksotis dan cambang-panjang-mengawang. Dini Widya, sebiji marshmallow seorang mojang Banten (entah apa bedanya dengan orang Sunda selain dialek pantai utara), gadis mungil, imut, chubby, dan tampang awet muda, padahal aslinya dia udah berumur kepala 2. Entah apa rahasia muka penuh-trik-dan-intrik yang bisa menipu waktu, mungkinkah dia mewarisi jampi-jampi awet muda Dayang Sumbi? Tiada yang tahu, dia cuma mengakui bahwa dia suka 69 telah mengonsumsi APTX 4869. Sementara si Nico, orang Batak Karo bermarga Sinusitis, penganut aliran feminisme yang selalu memproklamasikan bahwa dirinya ganteng, meski tidak ada yang pernah mengakui kedaulatan kegantengannya. “Selalu membanggakan dirinya karena tidak ada orang lain yang membanggakannya,” begitu kata Ariani.

Meskipun logat kami agak berbeda, satu menggunakan dialek koboi dari negara bagian Calimongso, satu lagi beraksen Welsh, dan yang terakhir bicara dengan logat Eropa pinggiran, yang jelas kami sama-sama pakai kata ganti ‘aku’ dan ‘kamu’, bukan ‘lu’ dan ‘gue’ seperti layaknya imigran Jakarta yang mulutnya sudah tercemar.

Jam 9 kami berkumpul di Harmoni, toko-swalayan-sejuta-umat bagi mahasiswa STAN. Mulai dari celana dalam bermotif kembang-kembang hingga kolor aneka warna bisa ditemukan di sini. Kasir nan cekatan akan melayani pengunjung dengan ritme secepat tari Jaipong, beda dengan kasir Carrefour yang lemah gemulai bak penari-Serimpi-lagi-puasa.

Angkot C-09 mengangkut kami bertiga sampai di dekat rel KA Pesanggrahan. Kemudian dilanjut dengan Metromini 71 jurusan Blok M. Beruntunglah sopir Metromini itu tidak terlalu ugal-ugalan sehingga kami bisa sampai dengan selamat, sehat wal afiat tanpa aral halangan suatu apapun. Having a bus trip in Jakarta can really break your limbs.

Oh ya, as far as I know, di Jawa Barat dan Banten, kendaraan umum berukuran besar itu lazim dilafalkan bês oleh native-speaker bahasa Sunda. Sedangkan orang Jawa mengucapkannya dengan pelafalan bés. Orang Batak? Tahu sendiri lah kau bijimana logat Si Poltak Raja Minyak dari Medan…

Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki moda transportasi favorit orang Betawi, Busway alias Trans Batavia. Turun di halte Bundaran Senayan, si Nico nyaris salah melangkah ke Ratu Plaza, padahal tujuan kami adalah Gedung Summitmas I di seberangnya.

Ada beberapa prosedur yang harus dilalui untuk masuk ke dalam gedung. Bagi orang ganteng bertampang tipikal teroris seperti aku, hal ini bisa jadi agak sedikit merepotkan. Pertama, pemeriksaan barang oleh petugas keamanan. Yah, kali ini cukup dengan membuka tas dan melihat isinya. Petugas itu punya tingkat kepercayaan yang tinggi, aku cuma membuka satu bagian tas dan langsung lulus sensor begitu aja. OK, aku sukses membawa masuk bom… Mungkin cara ini bisa dicoba di Kedutaan Besar Malaysia, hehehe.

Kedua, menyerahkan KTP dan menggunakan kartu identitas yang dipasang di pakaian. Em… Mungkin mereka heran melihat KTP Temanggung dari zaman batu yang bentuknya masih ultrakonvensional itu. Dan pasti mereka bingung melihat anak kecil seperti Dini bisa punya KTP. Hehehe, piss Bu Dini.

OK, semua beres. Kami naik lift ke lantai 2. Tada… Semuanya SEPI!!! Naze darou, toushoukan wa doko ka na?! Perpustakaan tutup, tidak ada pameran, kami cuma bisa mengambil brosur T_T… Tapi aku melihat satu yang aku mau. Pengumuman pendaftaran tes JLPT!!! Japanese Language Proficiency Test ini adalah TOEFL-nya bahasa Jepang. Bagus, pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tadinya kebingungan kapan harus mendaftar karena aku harus segera pulang, dan setahuku pendaftaran di Jakarta harus dilakukan di Universitas Darma Persada, Jakarta Timur. Dan kini aku dapat solusinya. Aku cukup mendaftar on-the-spot di lantai 3.

Harga formulir masih tetap sama, tapi desain warnanya berbeda. It cost me a fair 10,000. Tapi uang tes level 3 udah naik, jadi 60.000 T_T. Dua tahun lalu cuma 45.000 lho. Udahlah, daripada ongkos aslinya yang di Jepang bisa sampe ribuan yen. Hai, sankyuu no nouryoku shiken, boku ga kuru no da!

Em… Tapi kok kartu tesnya dikirim lewat pos ya? Walhasil alamatnya kuisi alamat rumah, soalnya kartunya bakal dikirim bulan Oktober. Waktu itu aku masih menikmati masa pengangguran nan panjang. Beda dengan dulu, kartunya bisa langsung diambil. Kartu itu dibutuhkan buat mengikuti tes. Eits, jangan ragu dengan alamat itu, meski tidak semua orang tahu Temanggung, tukang pos pasti tahu siapa itu M. Yoga Prabowo. Pernah suatu hari datang surat dari seorang bule tua dari Washington, my old acquaintance, yang bahkan tulisan lebih sulit dibaca daripada huruf paku. I wonder why the postman could bring it to my house. Entah itu berkat faktor luck atau faktor f*ck.

Daripada pulang dengan tangan hampa, kami akhirnya kembali ke MBM (Mal Blok M, bukan Masjid Baitul Mal). Kami naik kopaja dari halte depan Summitmas. Lebih murah daripada naik busway, cuma 2.000 aja.

Di depan Pasaraya Grande sopir bus menyuruh kami turun. Si Dini beralih naik ke bis lain di belakangnya. Aku pikir si Dini ini mau ke Plaza Blok M naik bis itu. Aku dan Nico ikut-ikutan aja. Tapi begitu jalan, aku bingung kenapa bis ini ga belok ke Melawai?! Sampai di sebuah traffic light, aku liat ada penunjuk jalan, cuma tertulis Thamrin, Fatmawati dan Cilandak. OK, DI MANA MELAWAI?! Aku tahu kami nyasar. Kalo dibiarin, alih-alih ke Melawai, kami bisa sampai ke Kepulauan Mentawai.

“Dini, kamu yakin kita naik bis ini, kita ga salah naik?!” aku tanya dengan tingkat penasaran 101%.

“Eh, ga tau ni. Aku cuma langsung naik aja.” *sotoy-mode on*

Aku sadar bahwa aku mempercayakan perjalanan kami ke orang yang kurang tepat. Aku tunjukin papan penunjuk jalan, tidak ada kata Melawai, tidak ada kata Plaza Blok M, semua jauh dari tujuan. Aku beranjak menuju kernet dan minta turun di situ segera.

Akhirnya kami berjalan kembali ke depan Pasaraya Grande dengan mempertaruhkan nyawa menyeberang di jalur nan ramai. Crossing roads in Jakarta means that you decide-to-suicide, make-or-break. Untungnya di situ ada sebuah jembatan penyeberangan, dan voila… Sampailah kami di Mal Blok M. Dasar si Dini… Meski dia udah lebih lama di Jakarta, dia lebih ijo tentang jalan di Jakarta daripada aku. Gadis cerdas dengan pengetahuan kota Jakarta setingkat marshmallow… Yah, yang penting kita doakan supaya si mungil Dini ga diculik sindikat penculik anak SD. Mbak Dini punika piyantunipun taksih katon kados lare alit (hohoho, semoga Dini ga tau arti bahasa-planet ini).

Sebenernya ga ada sih yang mau beli baju di sana. We’re just sightseein’, lookin’ for splendid stuffs. Tapi tidak ada barang yang menarik perhatianku, lagian baru Jumat kemaren aku pergi ke sana bareng temen dari siang ampe Maghrib. Fortunately, not from dusk till dawn at the beauty clinic. Akhirnya kami malah nemenin Dini ke swalayan buat beli detergen ^_^’.

Bai de wei (bahasa Mandarin ni, hehehe), harga baju di Ramayana mahal-mahal T_T. Kok beda ya dengan di Ramayana Yogya yang bisa murah-murah banget. Ah… Jadi kangen Yogya, rumah keduaku. OK, aku ga punya rumah di sana, kecuali kalo aku bisa dibilang penghuni Keraton ;-) . Yup, Yogya is my middle-name.

Kami pun akhirnya pulang, menuju Jurang Mangu tercinta. Aku dan Dini turun di gerbang PJMI, meninggalkan Nico yang termangu dalam angkot. Oh ya, aku mau memberi Dini sesuatu yang dari dulu ingin kuberikan.

“Dini, ini punya kamu bukan?” aku mengeluarkan sesuatu dari saku jeansku.

“Ah, kenapa bisa ada di kamu Yog?!” Dini kaget melihatnya.

Saudara-saudara, benda itu adalah… Sebatang bolpoin. Hehehe, lebai amat. Bolpoin faster yang sudah kupinjam selama 5 hari tanpa Dini sadari.

“Kok kamu inget itu punyaku?” Dini bertanya dengan dudulnya.

“Kan aku yang beliin buat kamu!” aku mengingatkan dia pada saat aku fotokopi tugas PPh, waktu itu dia titip beli bolpoin faster. Awkward memory of awkwardness.

Yah, aku ga bisa tenang kalo belum ngembaliin barang itu. Sekarang aku bisa bilang “Sampai jumpa, marshmallow kawan”. Sampai jumpa 1-F. Sampai jumpa semuanya. Semoga kita bisa sekelas lagi… Meski mungkin aku sudah bukan Yoga yang dulu. Aku mungkin sudah berubah menjadi Yoga 2.0 dengan tingkat kegantengan 200% dan kadar kolesterol 50%. Tapi di dalam hati, aku adalah aku, dan teman tetaplah teman. Daiji na mono wa hidari no mune ni nokotteru. Samishikutemo, minna ga iru kara, kokoro ga ii yo. Though I’ll be lonely, it doesn’t matter because all of you are in my heart. Friends forever!

Komentar»

No comments yet — be the first.