jump to navigation

Yoga Prabowo and the End of Adolescence Agustus 19, 2009

Posted by triplefortune in Pribadi.
trackback

Empat belas tahun lalu, aku hanya seorang anak malang yang selalu jadi bulan-bulanan kakak kelas. Hanya bisa menangis, dan berharap mereka pergi selamanya. Sepuluh tahun lalu, aku ingin Doraemon muncul dari laci mejaku. Tapi kemudian aku sadar, tidak ada laci di meja kamarku. Enam tahun lalu,  aku berharap bulu kakiku berhenti tumbuh. Tak kusangka, kini aku terlihat mirip model iklan penumbuh rambut cap Firdaus.

Begitulah kawan, waktu begitu cepat berlalu tanpa pernah kau sangka apa yang akan ia bawa. Dulu kita masih merangkak dan merengek kasih Bunda, tanpa sadar sudah meraksasa dan tumbuh dewasa. OK, bagian “dewasa” itu opsional, tepatnya kita dari hari ke hari bertambah tua.

Hari ini adalah hari saat aku melepas masa muda. Seperlima abad sudah waktu yang telah aku habiskan di dunia, tanpa mengetahui berapa sisanya. Ada sedikit rasa bahagia karena masih bisa menyaksikan matahari terbit di ufuk purwa. Tapi ada rasa khawatir yang membuncah di hati.

Aku sadari, selama dwi dasa tahun terakhir ini tiada hal bermakna yang telah aku hasilkan di dunia. Mungkin aku hanya menjadi sampah dunia ini saja. Hanya numpang hidup, datang dan pergi begitu saja. Aku selalu merasa aku tidak cukup acceptable untuk memasuki kehidupan masyarakat.

Aku tak bisa menjadi Yoga yang aku harapkan saat kecil. Yoga yang aku ingat saat itu, adalah orang yang meyakini ada takdir besar untuk dirinya. Tiap kali aku mengingat bahwa aku adalah seorang Yoga, aku akan tersentak ke alam sadarku, bahwa leluhurku adalah orang besar, dan aku tak ingin kurang dari itu.

Tumbuh dewasa selalu penuh dengan luka. Kesedihan, kekecewaan, ketakutan, kekhawatiran, pengkhianatan, dan rasa sakit. Jika aku bisa sebentar saja absen dari penderitaan itu, mungkin aku akan langsung mati lantaran saking bahagianya.

Mungkin aku selalu nampak bahagia, tapi aku manusia fana yang selalu merasa gelisah dalam jiwa. Apabila netra manusia mampu menyaksikan aura, mungkin auraku ini berwarna hitam muda. Aura gelap yang bersinar dengan cahaya redup keyakinan yang mungkin mati tertiup angin sepoi-sepoi, apalagi badai.

Baik kawan… Sudah cukup mengeluh. Aku bersyukur Allah sudah memberikan banyak penderitaan dan cobaan dalam perjalanan hidupku ini. Tanpa ini semua, aku tak akan bisa merasakan kebahagiaan yang sepenuhnya.

Aku ingin di sisa hidupku yang tak berarti ini, aku bisa memanfaatkan semua karunia Allah dengan sebaik-baiknya. Aku diberi akal untuk berpikir, jiwa untuk merasa, dan tubuh yang sempurna untuk melaksanakan hasil cipta, rasa, dan karsa.

Aku tak bisa membahagiakan diriku sendiri, apalagi membahagiakan orang lain. Tapi aku harap, aku bisa membuat orang di sekitarku tersenyum. Senyuman bahagia, dari dalam hati yang tulus dan murni. Mungkin hanya dengan itu aku bisa menemukan kebahagiaanku.

Ayo kawan, gunakan sisa umurmu dengan baik. Selagi engkau masih muda, ubahlah dunia menjadi lebih baik. Jangan sampai engkau menyesal, seperti aku di ulang tahun ketujuhbelas, kedelapanbelas, kesembilanbelas, dan keduapuluhku. Akhirilah masa mudamu dengan senyum bahagia.

Komentar»

1. dida - September 6, 2009

^_^ semangat!

triplefortune - September 9, 2009

iya Bu Dida! semangat perdjoeangan!

2. liz - Oktober 6, 2009

hal terindah yang baru ku baca hari ini!!!!!
walo gak punya doraemon, walo gak bisa terbang dan melompat kayak spiderman, tapi moga qt bisa menjadi sorang yang lebih dari yang kita bayangkan,,,,
hufff hidup memang perjuangan,,,